7 Perilaku Orang Tua yang Ternyata Bisa Menghambat Kesuksesan Anak 

Biarkan anak kenal risiko

7 Perilaku Orang Tua yang Ternyata Bisa Menghambat Kesuksesan Anak 

Pakar kepemimpinan dan penulis buku psikologi Dr Tim Elmore, beberapa waktu lalu melakukan penelitian terhadap perilaku orang tua yang ternyata berpengaruh terhadap kesuksesan anak. Ia menemukan beberapa fakta, di antaranya perilaku yang kerap dilakukan orang tua selama ini rupanya keliru dan membatasi peluang anak meraih kesuksesannya. Apa saja? 

1. Orang tua tidak rela membiarkan anak menerima risiko atas perbuatannya. 

anak-664f415248df0b754abca860cb4eb5e9.jpglevininjuryfirm.com

Melindungi anak dari segala bahaya memang jadi tugas utama orang tua. Namun, kalau ternyata yang diperoleh anak bukan perlindungan, api isolasi yang berlebihan, hal itu akan merugikan. Psikolog di Eropa mengemukakan, jika anak tidak dibiarkan bermain di luar dan tidak pernah diizinkan bergaul dengan teman-temannya, lari-larian di taman, dan sesekali terluka karena jatuh, mereka akan takut menghadapi kedewasaan.

Anak-anak perlu jatuh beberapa kali. Itu normal agar ia terbiasa menghadapi kesakitan kala dewasa nanti. Di masa depan nanti, masalah yang dihadapi tak sekadar jatuh di tanah, tapi banyak hal. Jika orang tua tidak membiarkan anak menerima risiko, dia mungkin akan mengalami ketergantungan terhadap orang tua dan jadi pribadi yang tak percaya diri. 

2. Orang tua memberikan bantuan kepada anak terlalu cepat. 

family-set-t-shirt-and-dresses-matching-mother-and-father-and-son-2015-summer-fashion-stripe-0e3579d05451d21f4e23621ec4d8c387.jpgaliexpress.com

Simpel saja contohnya: membuatkan anak prakarya yang menjadi tugas sekolah. Alasannya karena si anak tak bisa menganyam atau membuat kerajinan lainnya. Hal itu bakal memberikan efek yang buruk. Orang tua seharusnya tak boleh membantu anak seinstan ini.

Ketika orang tua “menyelamatkan” mereka terlalu cepat, mereka tak akan terbiasa memecahkan masalahnya sendiri. Dengan mental seperti ini, mereka tidak akan siap menjadi pemimpin kapan pun karena inisiatif untuk memecahkan persoalan sudah tumpul duluan. Dia juga akan terus meminta orang tua untuk mengurus dan memecahkan segala masalah yang dihadapi. 

3. Orang tua terlalu gampang memuji anak dan membangga-banggakannya secara berlebihan. 

ort3-5f3e92981d71280e66f3f6eaa95b2a8f.jpgtumblr.com

Anak mungkin akan percaya diri, tapi lama-kelamaan, ketika dewasa, mereka akan meragukan objektivitas ibu dan ayahnya dalam memberikan penilaian terhadapnya. Anak akan menganggap orang tua memberikan pujian lantaran dia anaknya, bukan karena prestasinya. Anak juga menjadi tidak bisa dikritik oleh orang lain. Yang paling parah, dia akan kecanduan menerima sanjungan. Kalau melakukan kesalahan sedikit saja dia tidak mau mengakui. Untuk menutupi, berbohong pun dilakoni.  

4. Orang tua selalu mengiming-imingi anak dengan imbalan materi. 

ort4-1d44803fbfdd165bec35fb2f1155d273.jpgid.pinterest.com

Dengan begini, anak akan terbentuk menjadi pribadi yang materialistis. Sedikit-sedikit, ia akan meminta imbalan untuk apa pun yang dilakukannya. Hal ini membuat anak menjadi kehilangan rasa bersalahnya kalau ia tidak bisa meraih prestasi atau memenuhi permintaan orang tua. Sebab, ia punya prinsip: “Kalau tak bisa melewati tantangan atau melakukan hal yang diinginkan orang tua, konsekuensinya hanya tak diberi hadiah atau imbalan.

5. Orang tua menutupi kesalahan masa lalu mereka dari anak-anaknya. 

ort5-da7a981858e2185cd5c54f28b71d50da.jpgmarshmary.com

Kalau sebagai orang tua kamu pernah terpuruk, misalnya kecanduan alkohol atau pernah mengonsumsi narkoba, sampaikanlah hal itu kepada anak. Mereka akan belajar dari kesalahan masa lalu orang tuanya. Kalau orang tua justru menutup-nutupinya, kemungkinan anak tidak punya sarana belajar dan akan terjerumus ke kenakalan yang sama dengan orang tuanya dari pergaulannya.

Dengan menceritakan kesalahan masa lalu, anak justru akan belajar dari pelakunya langsung. Mereka juga akan mendengarkan bagaimana sulitnya orang tua menghadapi masa lalu yang bisa dibilang suram itu. Dengan ini, tak perlu khawatir memberi pengaruh buruk terhadap anak.  

6. Orang tua mengira kecerdasan digunakan sebagai pengukur tingkat kematangan anak. 

ort6-10d96d222bbe4afced1c41762d52edf5.jpgkidsindisney.tumblr.com/

Kecerdasan sering digunakan orang tua untuk mengukur tingkat kematangan anaknya. Ia pikir, kalau anaknya cerdas, berarti dia bisa melakukan apa pun. Padahal hal itu keliru. Bukan berarti karena si anak tingkat kecerdasannya melampaui teman-temannya, lalu ia bebas melakukan apa pun. Bukan juga berarti kalau anaknya tingkat kecerdasannya kurang lalu ia dikekang meraih kemerdekaannya untuk menerima tanggung jawab. 

7. Orang tua tidak mempraktikkan apa yang telah diajarkannya. 

ort7-adad7b520b5351a18cffc3b5039ab444.jpgbel-ami.ro

Sebagai orang tua, kita tentu ingin memberikan model kehidupan yang baik bagi anak. Tapi, kalau hal itu cuma sekadar teori tanpa praktik, hasilnya akan nol. Lebih baik tak usah mengungkapkannya secara teoretis, tapi melalui praktik-praktik yang akan langsung ditiru oleh anak. Misalnya mengajari buang sampah di tempatnya, tak perlu diberi tahu secara verbal, cukup praktikkan di kehidupan nyata. Anak akan melihat dan mencontohnya. Kalau orang tua memberi tahu, tapi tak dipraktikkan, si anak bakal membelot dan melakukan apa yang juga dilakukan orang tuanya, hanya berbicara tanpa realisasi. 

Ternyata rumit ya jadi orang tua. Apa kalian sudah siap?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s